Berikut ini bukan termasuk bangsa Eropa yang datang ke wilayah Nusantara yaitu

Berikut ini bukan termasuk bangsa Eropa yang datang ke wilayah Nusantara yaitu

Berikut ini bukan termasuk bangsa Eropa yang datang ke wilayah Nusantara yaitu

Penulis: Rizal Amril Yahya
tirto.id - 10 Agu 2021 19:25 WIB

View non-AMP version at tirto.id

Berikut ini bukan termasuk bangsa Eropa yang datang ke wilayah Nusantara yaitu
Apa latar belakang sejarah bangsa-bangsa Eropa melakukan penjelajahan samudera hingga sampai ke Indonesia?

tirto.id - Sejarah mencatat, bangsa Barat menjelajah ke belahan bumi lain sejak abad ke-15 Masehi, termasuk sampai ke Nusantara atau Indonesia. Penjelajahan samudera oleh orang-orang Eropa ini kemudian menjadi penaklukan dan penjajahan atau kolonialisme bahkan imperialisme. Apa latar belakangnya?

Portugis menjadi bangsa Eropa pertama yang berlayar hingga ke Kepulauan Nusantara. Alfonso de Albuqueque memimpin sekitar 18 kapal yang mengangkut 1.200 orang. Rombongan Portugis ini menaklukkan Malaka pada 1511, lalu menyasar Maluku pada 1512. Dari sini, sejarah kolonialisasi di Indonesia bermula.

Advertising

Advertising

Rempah-rempah menjadi alasan utama Portugis menyambangi Nusantara. Capaian Portugis ini kemudian diikuti oleh kerajaan tetangga, Spanyol.

Di Maluku, Portugis dan Spanyol terlibat konflik. Portugis bersekutu dengan Kerajaan Ternate melawan Spanyol yang merangkul Kerajaan Tidore.

Tak hanya Spanyol dan Portugis, penjelajahan samudera yang menjelma menjadi kolonialisme dan imperalisme itu nantinya juga diikuti oleh bangsa-bangsa Eropa lainnya, termasuk Belanda, Perancis, Inggris, Italia, Belgia, hingga Jerman.

Apa latar belakang bangsa Eropa melakukan penjelajahan samudera? Salah satu penyebab utamanya adalah jatuhnya Konstatinopel pada 1453, dari Kekaisaran Bizantium atau Romawi Timur ke Kesultanan Turki Usmani di bawah pimpinan Sultan Mehmed II.

Penaklukan Konstantinopel (sekarang Istanbul) menjadi salah satu tonggak peristiwa penting yang mengubah sejarah peradaban manusia: penjelajahan bangsa-bangsa Eropa.

Infografik SC Rempah Rempah Nusantara. tirto.id/Fuad

Baca juga:

Bangsa Eropa Sampai ke Nusantara

Putusnya jalur perdagangan Asia-Eropa mendorong kerajaan-kerajaan di Eropa untuk mencari jalur perdagangan baru. Kali ini tak lewat darat yang sudah dikuasai Turki Usmani tertutup, sedang mencari jalur lain lebih sulit dan berbahaya. Maka, dicobalah menelusuri surga rempah-rempah lewat pelayaran.

Laut menjadi jalan yang ditempuh bangsa Barat untuk menemukan rempah. Portugis dan Spanyol menjadi yang pertama melakukan penjelajahan. Mereka akhirnya berhasil mencapai kepulauan rempah-rempah di timur jauh alias Asia Tenggara.

Tahun 1512, armada laut Portugis sampai ke Malaka. Portugis tiba di Kepulauan Nusantara dengan membawa serta 1.200 orang dan 17 atau 18 buah kapal. Ini merupakan awal mula kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia.

Baca juga:

Spanyol juga datang ke Nusantara setelah Portugis, Belanda pun demikian. Bahkan, belanda memiliki pengaruh yang jauh lebih dalam ketimbang dua bangsa Eropa sebelumnya karena penjajahan yang terjadi kemudian dan berlangsung amat lama.

Dinukil dari modul Sejarah Indonesia Kelas XI terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, terdapat beberapa peristiwa yang melatarbelakangi kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia, antara lain sebagai berikut:

Perang Salib

Perang Salib merupakan perang yang melibatkan masyarakat dari Eropa melawan Turki Seljuk dan orang Arab. Perang ini berlangsung selama 200 tahun dan terbagi menjadi 7 periode.

Perang ini disebut Perang Salib oleh orang Kristen, dan Perang Suci oleh kaum Muslim. Perang Salib disebabkan karena perebutan Kota Yerusalem.

Perang yang berlarut-larut ini membuat jalur perdagangan Asia-Eropa menjadi terputus. Perang ini juga berdampak pada habisnya kekayaan bangsa Eropa karena dialokasikan untuk peperangan.

Baca juga:

Jatuhnya Konstantinopel

Tahun 1453, Khalifah Utsmaniyah yang berpusat di Turki berhasil menguasai Konstantinopel. Kota ini sebelumnya termasuk wilayah kekuasan Kerajaan Romawi-Byzantium. Perebutan Konstantinopel ini dipimpin oleh Raja Turki, Sultan Muhammad II.

Konstantinopel, sejak lama merupakan kota yang diperebutkan, bukan hanya karena sejarah kejayaannya, namun juga karena kota ini merupakan salah satu titik penting dalam jalur perdagangan darat yang menyambungkan Eropa dengan Asia.

Setelah Konstantinopel diduduki Turki Usmani, jalur perdagangan darat Asia-Eropa terputus. Hal tersebut dikarenakan Turki Usmani melarang orang-orang Eropa melewati Konstantinopel.

Di sisi lain, permintaan barang, terutama rempah-rempah yang merupakan komoditas mahal di Eropa, meningkat. Hal ini memaksa bangsa-bangsa Eropa mencari jalur-jalur pedagangan lain selain Konstantinopel.

Baca juga:

Mencari Kepulauan Rempah-rempah

M. C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (2007) menyebutkan, alasan terbesar kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia atau Nusantara adalah demi rempah-rempah.

Rempah-rempah adalah bahan baku yang berharga di Eropa. Bangsa Eropa menjadikan rempah sebagai bahan baku obat, parfum, makanan, dan yang terpenting adalah pengawet makanan.

Orang-orang Eropa kala itu mesti menyembelih semua ternaknya. Jika tidak, ternak akan mati karena suhu dingin. Daging hasil ternak tersebut mesti diawetkan, namun bahan pengawet makanan waktu itu adalah rempah.

Terputusnya jalur perdagangan karena Konstantinopel jatuh ke tangan Turki Usmani membuat Bangsa Eropa tergerak untuk mencari jalur perdagangan rempah sendiri.

Selain India, Kepulauan Nusantara waktu itu sudah terkenal sebagai penghasil rempah. Pala, lada, dan terutama cengkeh adalah komoditas bernilai sangat mahal.

Namun, Portugis, Spanyol, juga Belanda tidak datang ke Indonesia hanya untuk memenuhi kebutuhan warganya akan rempah semata. Mereka juga berniat untuk memonopoli perdagangan rempah.

Baca juga:

Perkembangan Teknologi & Sains

Setelah kekalahan di Perang Salib, perkembangan teknologi dan sains di Eropa justru berkembang pesat seiring berakhirnya fase Abad Gelap dan digantikan dengan Renaisans alias Abad Pencerahan sejak abad ke-15 M.

Selain itu, kekalahan Perang Salib membuat bangsa-bangsa Eropa menyadari kekurangan mereka dalam hal teknologi dan ilmu pengetahuan.

Pada masa-masa itu, muncul teori heliosentrisme yang diperkenalkan oleh Nicolas Copernicus dan Galileo Galilei. Pembuktian-pembuktian bahwa bumi berbentuk bulat, dan mempunyai orbit yang mengelilingi matahari dapat dilakukan setelah ilmu astronomi ditemukan dan berkembang.

Baca juga:

Teori ini membuka tabir bahwa pengetahuan orang Eropa atas dunia ternyata begitu sempit. Maka, muncul keinginan untuk mencari tahu hal-hal yang belum diketahui tentang alam semesta, keadaan geografi dunia, dan tentang bangsa-bangsa lain yang ada di belahan dunia lain.

Keinginan untuk menjelajah tersebut ditunjang oleh berkembangnya teknologi pelayaran, seperti ditemukannya kompas, meriam, dan alat-alat lainnya, juga perkembangan ilmu astronomi dalam navigasi pelayaran.

Teknologi dan pengetahuan membuat pencarian tempat penghasil rempah-rempah dapat dilakukan melalui laut, tidak melalui darat yang sudah terputus karena jatuhnya Konstantinopel.

Baca juga:

Semangat 3G

Pada akhirnya, penjelajahan samudera yang dilakukan bangsa-bangsa Eropa disertai semangat 3G, yakni gold (kekayaan), glory (kejayaan), dan gospel (menyebarkan agama Nasrani).

Gold berarti keinginan memperoleh kekayaan di wilayah-wilayah baru yang ditemukan. Kekayaan yang dieksploitasi dari daerah baru itu kemudian digunakan untuk kepentingan kerajaan/negara imperialis

Glory diartikan sebagai kejayaan atau untuk menguasai wilayah yang didatangi dan dijadikan sebagai koloni. Indonesia, misalnya, pernah cukup lama menjadi jajahan Belanda.

Gospel merupakan misi menyebarkan ajaran Nasrani (Kristen Katolik dan Kristen Protestan). Misionaris bangsa-bangsa Eropa menyebarkan agamanya di wilayah-wilayah baru yang mereka datangi.

Baca juga:

Baca juga artikel terkait PENJELAJAHAN SAMUDERA atau tulisan menarik lainnya Rizal Amril Yahya
(tirto.id - ray/isw)

Penulis: Rizal Amril Yahya Editor: Iswara N Raditya Kontributor: Rizal Amril Yahya

© 2022 tirto.id - All Rights Reserved.

Jakarta -

Selain Belanda dan Jepang ada beberapa negara lain yang pernah menjajah Indonesia. Negara-negara tersebut datang dan menjajah Indonesia dengan tujuan ingin merebut hasil bumi nusantara yang kaya.

Berikut 6 negara yang pernah menjajah Indonesia mengutip buku Menggali dan Menemukan Roh Pancasila Secara Kontekstual karya I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd:

1. Portugis

Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang datang ke Asia dan melakukan hubungan perdagangan.

Portugis mengendalikan perdagangan di Asia Tenggara melalui penguasaan Malaka pada tahun 1511 oleh Alfonso de Albuquerque.

Selama dikuasai Portugis (1511-1642), Malaka menjadi pusat perdagangan yang paling ramai di Asia.

Untuk memperbesar usaha dagang, Portugis berupaya meluaskan wilayah kekuasaannya dengan berusaha menguasai Selat Sunda. Maka pada tahun 1522 Portugis dan Sang Hyang Prabu Surawisesa, Raja Sunda membuat kesepakatan perjanjian kerjasama.

Dalam kesepakatan tersebut Portugis diizinkan mendirikan benteng di daerah yang disebut Kalapa, dengan syarat Portugis memberikan perlindungan terhadap Kerajaan Sunda dari kerajaan-kerajaan Islam di Jawa (Banten, Demak, dan Cirebon).

Namun benteng ini tidak pernah dibangun. Tahun 1526 armada Portugis yang dipimpin oleh Fransisco de Saa dicerai beraikan topan dan armada yang selamat mendarat di Sunda Kelapa di bunuh oleh Pasukan Cirebon.

Tahun 1527 Portugis mengirim armada lain menuju Sunda Kelapa. Namun armada yang dikirim tidak pernah sampai, karena awak kapal memberontak yang disebabkan gajinya terlalu kecil.

Portugis tidak pernah berkuasa di Kerajaaan Sunda dan Sunda Kelapa. Meskipun demikian Portugis tetap melakukan perdagangan dengan Banten dan Sunda Kelapa sampai pertengahan abad ke-16.

Tahun 1619 Belanda berhasil merebut Sunda Kelapa menjadi pusat perdagangan VOC dan mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Batavia.

Selain berkuasa di Malaka, pada tahun 1512 Alfonso de Albuquerque juga mengirimkan armadanya ke Maluku yang dipimpin oleh Antonio de Abreu.

Armada ini bertujuan membangun monopoli Portugis atas perdagangan cengkeh. Armada pertama tiba di Pulau Banda yang merupakan pusat penghasil pala dan fuli (selaput buah pala).

Namun hubungan Portugis dan Sultan Ternate sering diwarnai konflik, yang berujung pada Perlawanan Sultan Baabullah (1570 - 1584).

Sultan Baabullah mengadakan perlawanan terhadap Portugis, yang disebut dengan perang Soya-soya. Portugis dapat dikalahkan dan pergi dari Maluku.


2. Spanyol


Pada masa kekuasaan Raja Charles V, Spanyol mengutus Ferdinand Magellan (1480- 1521) untuk menemukan Kepulauan Maluku sebagai pulau penghasil rempah-rempah yang bermutu tinggi.

Sebelum menemukan Maluku, Magellan menemukan sebuah kepulauan pada tahun 1521, yang oleh Raja Philip II dari Spanyol dinamakan Filipina.

Kehadiran Magellan tidak diterima di Filipina, sehingga terjadi peperangan yang mengakibatkan terbunuhnya Ferdinand Magellan.

Terbunuhnya Ferdinand Magellan tidak menyurutkan misi bangsa Spanyol untuk menemukan Pulau Rempah, Maluku.

Ekspedisi ini akhirnya diteruskan oleh Sebastian del Cano yang berhasil sampai di Kepulauan Maluku pada tahun 1521 dan kembali ke Spanyol pada tahun 1522.

Anggota rombongan del Cano ada yang tetap tinggal di Maluku dan melakukan perdagangan dengan orang-orang Maluku.

Kedatangan Spanyol ini mengusik Portugis yang sudah lebih dahulu sampai di Maluku. Kemudian terjadi perseteruan di antara keduanya.

Persaingan antara dua negara Eropa ini terjadi bersamaan dengan pertentangan antara Sultan Ternate dan Sultan Tidore. Sultan Tidore bersekutu dengan Spanyol dan Sultan Ternate bersekutu dengan Portugis.

Mereka saling melakukan perlawanan. Pertentangan dua negara Eropa ini memaksa Paus turun tangan untuk mendamaikan.

Hasil perundingan disepakati Perjanjian Saragosa pada tahun 1529. Perjanjian ini membagi kekuasan Spanyol dan Portugis.

Spanyol berkuasa atas Meksiko ke arah Barat sampai Kepulauan Filipina. Sedangkan Portugis berkuasa atas Brazil ke arah Timur sampai Kepulauan Maluku.

3. Prancis

Prancis adalah negara yang pernah menjajah Indonesia.

Raja Prancis, Louis Napoleon mengirimkan Marsekal Willem Daendels ke Batavia dan dijadikan Gubernur Jenderal di Indonesia pada tahun 1808.

Kemudian seluruh Pulau Jawa diserahkan ke Inggris pada 18 September 1811.

4. Inggris

Inggris terinspirasi oleh keberhasilan Portugis dan Spanyol menemukan penghasil rempah-rempah di Kepulauan Maluku. Francis Drake memimpin ekspedisi pertama yang berhasil mencapai Ternate mengikuti jalur pelayaran yang ditempuh Magellan pada tahun 1579.

Ekspedisi selanjutnya dipimpin oleh Thomas Cavendish pada tahun 1586. Hasil kedua ekspedisi ini mendorong Ratu Elizabeth I meningkatkan pelayaran internasionalnya.

Ratu Elizabeth I memberikan hak istimewa kepada East Indian Company (EIC) untuk mengelola perdagangan dengan Asia pada tahun 1600.

Selang 2 tahun, armada Inggris dibawah pimpinan Sir James Lancaster berhasil mencapai Aceh dan Banten.

Ekspedisi dagang berikutnya yang dipimpin oleh Sir Henry Middleton berhasil mencapai Ternate, Tidore, Ambon, dan Banda pada tahun 1604 yang mendapat perlawanan dari Belanda.

Tahun 1620, Inggris memindahkan perdagangannya ke India dan Tiongkok.

Agustus 1811, Inggris berhasil merebut Batavia dari Belanda. Gubernur Jenderal Belanda, Janssens melarikan diri dan tertangkap di Tuntang, Salatiga.

Janssens menandatangani Perjanjian Tuntang tanggal 18 September 1811 yang berisi:

1. Seluruh kekuatan militer Belanda di Asia Tenggara harus diserahkan kepada Inggris.2. Utang pemerintah Belanda tidak diakui oleh Inggris.

3. Pulau Jawa, Madura, dan semua panggkalan Belanda di luar Jawa menjadi wilayah kekuasaan Inggris.


Inggris menugaskan Thomas Stamford Raffles untuk mengatur pemerintahan Inggris di Indonesia. Raffles menjalankan pemerintahannya dengan dipengaruhi semangat revolusi Perancis, yaitu kebebasan, persamaan, dan persaudaraan.

Raffles juga menghapuskan rodi dan sistem tanam paksa, menjadikan bupati sebagai bagian dari pemerintahan, dan pemerintah kolonial sebagai pemilik tanah yang melahirkan sistem sewa tanah.

Kekalahan Napoleon menyebabkan Inggris terpaksa menyerahkan kekuasaannya di Indonesia kepada Belanda pada tahun 1814. Sistem sewa tanah ini dilanjutkan oleh Belanda sampai tahun 1830.


5. Belanda

Belanda berhasil sampai ke Asia pada abad ke-16 setelah mendapatkan peta dan informasi dari Bangsa Italia (Venesia).

Tahun 1595 Belanda sudah mulai berdagang di Sunda Kelapa dan Banten. Perusahaan- perusahaan pelayaran niaga Belanda saling bersaing memperebutkan rempah-rempah dari Indonesia, sehingga keuntungan mereka menurun.

Akhirnya kedua perusahaan, yaitu Perusahaan Hindia Timur dan Perusahaan Hindia Barat ini bergabung pada tanggal 20 Maret 1602 menjadi Vereenigde Oostindische Compagnie yang disingkat VOC, artinya serikat perusahaan perdagangan Belanda di Asia Timur, yang diperbaharui setiap 21 tahun.

VOC bertahan hingga tahun 1799. Sampai tahun 1619 VOC belum memiliki pusat perdagangan di Asia, sehingga Gubernur Jendral VOC harus berkantor di sebuah kapal VOC yang berada di perairan Nusantara.

Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen merebut Jayakarta dari Pangeran Wijaya Krama pada tahun 1619 dan membangun sebuah benteng yang diberi nama Batavia.

Sebelum membangun benteng di Batavia, VOC telah merebut beberapa Benteng Portugis. Tahun 1605, VOC membangun kerjasama dengan Ambon dan Ternate.

Kerjasama dengan Ternate didasari untuk mengusir Spanyol dari Ternate dengan imbalan monopoli cengkeh di seluruh wilayah Ternate.

Apabila dihitung, durasi Indonesia di bawah kolonialisme Belanda kurang lebih 350 tahun. Setelah sekian lama berjuang, keinginan lepas dari cengkeraman Belanda mulai terbuka.

Diawali pada 7 Desember 1941 Jepang membom Pear Harbour, salah satu pangkalan penting Amerika Serikat di Lautan Pasifik, yang memicu perang pasifik.

Pada Maret 1942, Angkatan Perang Kerajaan Belanda di Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Sejak itu, Indonesia resmi di bawah kekuasaan Kerajaan Jepang.


6. Jepang

Setelah lepas dari Belanda, negara yang pernah menjajah Indonesia adalah Jepang. Jepang adalah penjajah yang kelakuannya lebih menindas dan penjajahan berlangsung selama 3,5 tahun.

Pada 6 Agustus 1945, bom atom pertama dijatuhkan di Hiroshima oleh sekutu yang menewaskan sekitar 78 ribu orang. Beberapa tokoh bangsa Indonesia mendadak berangkat ke Saigon memenuhi undangan Jepang.

Pada 7 Agustus 1945 atas persetujuan Komando Tertinggi Jepang Jenderal Terauchi di Saigon dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ir Sukarno diangkat sebagai ketua, sedangkan M Hatta sebagai wakil ketua.

Sepulangnya dari Saigon pada 14 Agustus 1945 di Kemayoran, Sukarno mengumumkan Indonesia akan merdeka dari Jepang.

Sebelum berhasil mewujudkan janji kemerdekaan kepada Indonesia, pada 9 Agustus 1945, Jepang dijatuhi bom atom kedua sampai akhirnya menyerah tanpa syarat pada 15 Agustus 1945.

Peristiwa menyerahnya Jepang kepada sekutu menandai berakhirnya Perang Dunia II. Maka janji Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia tidak mungkin dapat dilakukan lagi dan Indonesia terjadi kekosongan kekuasaan. Hingga akhirnya Indonesia Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.

Simak Video "Menikmati Keindahan Alam Sawahlunto dengan Naik Kereta Wisata, Sumatera Barat"



(ddn/msl)


Page 2

Berikut ini bukan termasuk bangsa Eropa yang datang ke wilayah Nusantara yaitu

Benteng peninggalan penjajah Portugis di Indonesia Foto: (Dian Utoro Aji/detikcom)

Jakarta -

Selain Belanda dan Jepang ada beberapa negara lain yang pernah menjajah Indonesia. Negara-negara tersebut datang dan menjajah Indonesia dengan tujuan ingin merebut hasil bumi nusantara yang kaya.

Berikut 6 negara yang pernah menjajah Indonesia mengutip buku Menggali dan Menemukan Roh Pancasila Secara Kontekstual karya I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd:

1. Portugis

Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang datang ke Asia dan melakukan hubungan perdagangan.

Portugis mengendalikan perdagangan di Asia Tenggara melalui penguasaan Malaka pada tahun 1511 oleh Alfonso de Albuquerque.

Selama dikuasai Portugis (1511-1642), Malaka menjadi pusat perdagangan yang paling ramai di Asia.

Untuk memperbesar usaha dagang, Portugis berupaya meluaskan wilayah kekuasaannya dengan berusaha menguasai Selat Sunda. Maka pada tahun 1522 Portugis dan Sang Hyang Prabu Surawisesa, Raja Sunda membuat kesepakatan perjanjian kerjasama.

Dalam kesepakatan tersebut Portugis diizinkan mendirikan benteng di daerah yang disebut Kalapa, dengan syarat Portugis memberikan perlindungan terhadap Kerajaan Sunda dari kerajaan-kerajaan Islam di Jawa (Banten, Demak, dan Cirebon).

Namun benteng ini tidak pernah dibangun. Tahun 1526 armada Portugis yang dipimpin oleh Fransisco de Saa dicerai beraikan topan dan armada yang selamat mendarat di Sunda Kelapa di bunuh oleh Pasukan Cirebon.

Tahun 1527 Portugis mengirim armada lain menuju Sunda Kelapa. Namun armada yang dikirim tidak pernah sampai, karena awak kapal memberontak yang disebabkan gajinya terlalu kecil.

Portugis tidak pernah berkuasa di Kerajaaan Sunda dan Sunda Kelapa. Meskipun demikian Portugis tetap melakukan perdagangan dengan Banten dan Sunda Kelapa sampai pertengahan abad ke-16.

Tahun 1619 Belanda berhasil merebut Sunda Kelapa menjadi pusat perdagangan VOC dan mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Batavia.

Selain berkuasa di Malaka, pada tahun 1512 Alfonso de Albuquerque juga mengirimkan armadanya ke Maluku yang dipimpin oleh Antonio de Abreu.

Armada ini bertujuan membangun monopoli Portugis atas perdagangan cengkeh. Armada pertama tiba di Pulau Banda yang merupakan pusat penghasil pala dan fuli (selaput buah pala).

Namun hubungan Portugis dan Sultan Ternate sering diwarnai konflik, yang berujung pada Perlawanan Sultan Baabullah (1570 - 1584).

Sultan Baabullah mengadakan perlawanan terhadap Portugis, yang disebut dengan perang Soya-soya. Portugis dapat dikalahkan dan pergi dari Maluku.


2. Spanyol


Pada masa kekuasaan Raja Charles V, Spanyol mengutus Ferdinand Magellan (1480- 1521) untuk menemukan Kepulauan Maluku sebagai pulau penghasil rempah-rempah yang bermutu tinggi.

Sebelum menemukan Maluku, Magellan menemukan sebuah kepulauan pada tahun 1521, yang oleh Raja Philip II dari Spanyol dinamakan Filipina.

Kehadiran Magellan tidak diterima di Filipina, sehingga terjadi peperangan yang mengakibatkan terbunuhnya Ferdinand Magellan.

Terbunuhnya Ferdinand Magellan tidak menyurutkan misi bangsa Spanyol untuk menemukan Pulau Rempah, Maluku.

Ekspedisi ini akhirnya diteruskan oleh Sebastian del Cano yang berhasil sampai di Kepulauan Maluku pada tahun 1521 dan kembali ke Spanyol pada tahun 1522.

Anggota rombongan del Cano ada yang tetap tinggal di Maluku dan melakukan perdagangan dengan orang-orang Maluku.

Kedatangan Spanyol ini mengusik Portugis yang sudah lebih dahulu sampai di Maluku. Kemudian terjadi perseteruan di antara keduanya.

Persaingan antara dua negara Eropa ini terjadi bersamaan dengan pertentangan antara Sultan Ternate dan Sultan Tidore. Sultan Tidore bersekutu dengan Spanyol dan Sultan Ternate bersekutu dengan Portugis.

Mereka saling melakukan perlawanan. Pertentangan dua negara Eropa ini memaksa Paus turun tangan untuk mendamaikan.

Hasil perundingan disepakati Perjanjian Saragosa pada tahun 1529. Perjanjian ini membagi kekuasan Spanyol dan Portugis.

Spanyol berkuasa atas Meksiko ke arah Barat sampai Kepulauan Filipina. Sedangkan Portugis berkuasa atas Brazil ke arah Timur sampai Kepulauan Maluku.

3. Prancis

Prancis adalah negara yang pernah menjajah Indonesia.

Raja Prancis, Louis Napoleon mengirimkan Marsekal Willem Daendels ke Batavia dan dijadikan Gubernur Jenderal di Indonesia pada tahun 1808.

Kemudian seluruh Pulau Jawa diserahkan ke Inggris pada 18 September 1811.

4. Inggris

Inggris terinspirasi oleh keberhasilan Portugis dan Spanyol menemukan penghasil rempah-rempah di Kepulauan Maluku. Francis Drake memimpin ekspedisi pertama yang berhasil mencapai Ternate mengikuti jalur pelayaran yang ditempuh Magellan pada tahun 1579.

Ekspedisi selanjutnya dipimpin oleh Thomas Cavendish pada tahun 1586. Hasil kedua ekspedisi ini mendorong Ratu Elizabeth I meningkatkan pelayaran internasionalnya.

Ratu Elizabeth I memberikan hak istimewa kepada East Indian Company (EIC) untuk mengelola perdagangan dengan Asia pada tahun 1600.

Selang 2 tahun, armada Inggris dibawah pimpinan Sir James Lancaster berhasil mencapai Aceh dan Banten.

Ekspedisi dagang berikutnya yang dipimpin oleh Sir Henry Middleton berhasil mencapai Ternate, Tidore, Ambon, dan Banda pada tahun 1604 yang mendapat perlawanan dari Belanda.

Tahun 1620, Inggris memindahkan perdagangannya ke India dan Tiongkok.

Agustus 1811, Inggris berhasil merebut Batavia dari Belanda. Gubernur Jenderal Belanda, Janssens melarikan diri dan tertangkap di Tuntang, Salatiga.

Janssens menandatangani Perjanjian Tuntang tanggal 18 September 1811 yang berisi:

1. Seluruh kekuatan militer Belanda di Asia Tenggara harus diserahkan kepada Inggris.2. Utang pemerintah Belanda tidak diakui oleh Inggris.

3. Pulau Jawa, Madura, dan semua panggkalan Belanda di luar Jawa menjadi wilayah kekuasaan Inggris.


Inggris menugaskan Thomas Stamford Raffles untuk mengatur pemerintahan Inggris di Indonesia. Raffles menjalankan pemerintahannya dengan dipengaruhi semangat revolusi Perancis, yaitu kebebasan, persamaan, dan persaudaraan.

Raffles juga menghapuskan rodi dan sistem tanam paksa, menjadikan bupati sebagai bagian dari pemerintahan, dan pemerintah kolonial sebagai pemilik tanah yang melahirkan sistem sewa tanah.

Kekalahan Napoleon menyebabkan Inggris terpaksa menyerahkan kekuasaannya di Indonesia kepada Belanda pada tahun 1814. Sistem sewa tanah ini dilanjutkan oleh Belanda sampai tahun 1830.


5. Belanda

Belanda berhasil sampai ke Asia pada abad ke-16 setelah mendapatkan peta dan informasi dari Bangsa Italia (Venesia).

Tahun 1595 Belanda sudah mulai berdagang di Sunda Kelapa dan Banten. Perusahaan- perusahaan pelayaran niaga Belanda saling bersaing memperebutkan rempah-rempah dari Indonesia, sehingga keuntungan mereka menurun.

Akhirnya kedua perusahaan, yaitu Perusahaan Hindia Timur dan Perusahaan Hindia Barat ini bergabung pada tanggal 20 Maret 1602 menjadi Vereenigde Oostindische Compagnie yang disingkat VOC, artinya serikat perusahaan perdagangan Belanda di Asia Timur, yang diperbaharui setiap 21 tahun.

VOC bertahan hingga tahun 1799. Sampai tahun 1619 VOC belum memiliki pusat perdagangan di Asia, sehingga Gubernur Jendral VOC harus berkantor di sebuah kapal VOC yang berada di perairan Nusantara.

Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen merebut Jayakarta dari Pangeran Wijaya Krama pada tahun 1619 dan membangun sebuah benteng yang diberi nama Batavia.

Sebelum membangun benteng di Batavia, VOC telah merebut beberapa Benteng Portugis. Tahun 1605, VOC membangun kerjasama dengan Ambon dan Ternate.

Kerjasama dengan Ternate didasari untuk mengusir Spanyol dari Ternate dengan imbalan monopoli cengkeh di seluruh wilayah Ternate.

Apabila dihitung, durasi Indonesia di bawah kolonialisme Belanda kurang lebih 350 tahun. Setelah sekian lama berjuang, keinginan lepas dari cengkeraman Belanda mulai terbuka.

Diawali pada 7 Desember 1941 Jepang membom Pear Harbour, salah satu pangkalan penting Amerika Serikat di Lautan Pasifik, yang memicu perang pasifik.

Pada Maret 1942, Angkatan Perang Kerajaan Belanda di Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Sejak itu, Indonesia resmi di bawah kekuasaan Kerajaan Jepang.


6. Jepang

Setelah lepas dari Belanda, negara yang pernah menjajah Indonesia adalah Jepang. Jepang adalah penjajah yang kelakuannya lebih menindas dan penjajahan berlangsung selama 3,5 tahun.

Pada 6 Agustus 1945, bom atom pertama dijatuhkan di Hiroshima oleh sekutu yang menewaskan sekitar 78 ribu orang. Beberapa tokoh bangsa Indonesia mendadak berangkat ke Saigon memenuhi undangan Jepang.

Pada 7 Agustus 1945 atas persetujuan Komando Tertinggi Jepang Jenderal Terauchi di Saigon dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ir Sukarno diangkat sebagai ketua, sedangkan M Hatta sebagai wakil ketua.

Sepulangnya dari Saigon pada 14 Agustus 1945 di Kemayoran, Sukarno mengumumkan Indonesia akan merdeka dari Jepang.

Sebelum berhasil mewujudkan janji kemerdekaan kepada Indonesia, pada 9 Agustus 1945, Jepang dijatuhi bom atom kedua sampai akhirnya menyerah tanpa syarat pada 15 Agustus 1945.

Peristiwa menyerahnya Jepang kepada sekutu menandai berakhirnya Perang Dunia II. Maka janji Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia tidak mungkin dapat dilakukan lagi dan Indonesia terjadi kekosongan kekuasaan. Hingga akhirnya Indonesia Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.

Simak Video "Menikmati Keindahan Alam Sawahlunto dengan Naik Kereta Wisata, Sumatera Barat"


[Gambas:Video 20detik]
(ddn/msl)

6 negara pernah menjajah indonesia penjajahan indonesia dijajah

BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Berikut ini bukan termasuk bangsa Eropa yang datang ke wilayah Nusantara yaitu

Berikut ini bukan termasuk bangsa Eropa yang datang ke wilayah Nusantara yaitu

Berikut ini bukan termasuk bangsa Eropa yang datang ke wilayah Nusantara yaitu

Berikut ini bukan termasuk bangsa Eropa yang datang ke wilayah Nusantara yaitu

Berikut ini bukan termasuk bangsa Eropa yang datang ke wilayah Nusantara yaitu

Berikut ini bukan termasuk bangsa Eropa yang datang ke wilayah Nusantara yaitu

Berikut ini bukan termasuk bangsa Eropa yang datang ke wilayah Nusantara yaitu

Berikut ini bukan termasuk bangsa Eropa yang datang ke wilayah Nusantara yaitu